Dialog Diri


HARI PERTAMA

CURRICULUM VITAE

Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan dapat mengenal tuhannya
 
Terdapat perbincangan di dalam dua ruangan berbeda, pada ruang pertama.
Hari ini adalah hari pertama sekaligus tahapan awal, untuk anda dapat bekerja di perusahaan ini. Pertama saya ucapkan selamat, bahwa anda adalah kandidat yang terpilih untuk masuk kedalam sesi berikutnya, yaitu hari ini sesi interview hari pertama. Dan pastinya saya akan ingatkan, tidak semua yang melamar disini mendapat kesempatan seperti sekarang ini, jadi sekali lagi saya ucapkan selamat untuk anda.
Kedua, saya ucapkan terimakasih kepada anda, karena anda telah mempercayakan kepada kami, perusahaan ini, diri anda untuk mendedikasikan diri anda, dan kami terima dengan segala kegembiraan.
Sama-sama pak, saya juga senang diberikan kepecayaan untuk maju ke sesi interview, mudah-mudahan saya dapat optimal sehingga bapak dapat memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa bergabung di perusahaan ini
Apakah anda sudah siap, jika sudah, langsung saja, silahkan perkenalkan diri anda, meski saya sudah membaca CV anda, bagaimana, bisa dimulai?

Diruang lainnya, tepat bersebelahan dengan ruang pertama, hanya dibatasi oleh kaca setebal jari telunjuk.
Kalimat awal, tidak berbeda tapi tidak sama persis, namun memiliki kata kunci yang satu, ucapan selamat dan penyampaian terimakasih. Yang menjadikan perbedaan hanyalah respon dari calon pegawai akan diinterview.

pelamar yang ada di ruang kedua, hanya tersenyum sebentar kemudian menundukkan kepala, sambil berkata.
Saya melamar keperusahaan ini, sudah menjadi keputusan saya, dari pertimbangan saya sebelumnya, dengan konsekuensi diterima ataupun ditolak, jadi tidak perlu berterimakasih dan mengucapkan selamat kepada saya.
Kesan dingin dari ucapan orang itu seolah telah membekukan seluruh makhluk yang ada di dalam ruang kedua tersebut. Sampai-sampai penanya, yang merupakan staf Human Resources Development, HRD yang memang bertanggungjawab untuk menyeleksi setiap calon pegawai yang melamar sampai dengan setiap personal yang sedang dan telah bekerja di perusahaan tersebut, terdiam, mengeryitkan kening, kesan aneh, berbisik dalam batinnya.


Aneh, bisanya anda berkata demikian. Memangnya siapa anda, mari kita buktikan, seberapa jauh anda mengerti.

Dinilai sudah siap, interview-pun dimulai. Penannya membuka sisi sebelah kanan dinding ruangan yang ternyata adalah podium yang berisikan pegawai dari perusahaan tersebut dari office boy sampai dengan jajaran direksi. tugas pertama dari para pelamar adalah memperkenalkan diri.

Silahkan anda perkenalkan diri anda! Saya sudah pegang curriculum vitae anda,ini adalah cara kita meng-interview. Ada pilihan, anda lanjutkan dengan maju ke atas podium kemudian memperkenalkan diri, atau pilihan kedua yakni, anda mundur.

Orang yang berada pada ruangan pertama, terlihat tak lebih berseri wajahnya dibandingkan  saat ia menerima ucapan selamat dan terimakasih. Dengan begitu terlihat jelas ada sedikit keraguan.

Wuih, seru juga, berkali-kali melamar kerja, baru kali ini yang seperti ini, sport jantung juga.

Meski demikian, ia putuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju podium.
Selamat pagi,  assalamu’alaikum warohmatulohi wabarokatuh, salam sejahtera untuk kita semua. Kesempatan yang sangat jarang seperti ini adalah sebuah anugerah dari Alloh subhanahu wata’ala, tuhan semesta alam.
Pada kesempatan ini, izinkanlah saya untuk memperkenalkan diri sebagaimana bagian dari interview yang sedang saya laksanakan.
Perkenalkan, nama saya rohmatuloh, lahir di Jakarta 17 Januari 1983, anak ke tujuh dari tujuh bersaudara, domisili Jakarta Timur. Pendidikan terakhir saya adalah S1 biologi, di salah satu universitas di Jakarta. Saya tertarik bergabung dengan perusahaan ini, karena saya rasa inilah perusahaan yang cocok dengan diri saya dan saya piker ini adalah kesempatan saya untuk menunjukan bahwa saya bisa sukses.
Demikian perkenalan dari saya, mudah-mudahan menjadi awal yang baik dalam rangka pengkondisian saya dengan keluarga besar perusahaan ini. Terimakasih, assalamu’alaikum warohmatulohi wabarokatuh.
Terlihat wajah yang kembali berseri, senyum kepuasan, kepercayaan diri yang muncul dari kemaksimalan.


Giliran orang yang berada didalam ruang kedua untuk memperkenalkan diri. Ekspresi wajah datar, berbeda dengan orang pertama dari ruang pertama, ia hanya berjalan bergegas kemudian memandang ke arah ruang kedua untuk memastikan dirinya telah mendapatkan aba-aba memulai. Dan ternyata sudah diberikan.

Orang itu mengamati sejenak kursi yang berada di atas podium, lalu mengangkatnya pas pada posisi tengah podium, lalu, ia langsung menaikinya, berdiri di atas kursi yang berada diatas podium.

Sontak, audien yang berada dalam ruangan tersebut keheranan, namun tidak bergemuruh, mereka hanya terdiam mengamati apa yang sekiranya akan terjadi kemudian.
Pada suatu malam, gelapnya semakin gelap, karena awan mendung, setitik demi setitik air dari atas mulai turun, gerimis. Tidak semua orangtahu, disalahsatu rumah diantara jajaran rumah yang berbaris tak beraturan, seorang ibu sedang merasakan kesakitan yang semakin sakit, perutnya yang besar karena kehamilan, sedang menuju proses persalinan. Meski bukan anak pertama, namun kesakitan itu tiada bedanya.
Sebagai seorang suami, melihat kondisi istri berwajah pucat, merintih menahan sakit, bersegera memidahkan wanita, ibu dari anak-anaknya ke tempat bersalin, untuk mempersiapkan kelahiran anaknya, yang ketujuh. Wajah sang ayah, jelas penuh harap bercampur cemas, untuk proses persalinan, juga sebuah pertanyaan, bagaimana saya dapat membayar semua biaya persalinan ini, karena saat ini tidak ber-uang. Baru saja berfikir demikian, seorang rekan kerja dari sang ayah datang dan memberikan kabar gembira, bahwa sang ayah mendapatkan proyek. Pekerjaan, cara untuk memenuhi pembiayaan proses persalinan. Dari sinilah sang ayah memberikan nama anak itu Rohmatuloh, rahmat yang tercurah dari Alloh subhanahu wata’ala.
Waktu itu tertanggal 17 Januari 1983, dan waktu terus bergulir, anak itu tumbuh besar, bersekolah, mengaji, sampai dengan kuliah hingga akhirnya dia dapat berdiri sendiri, bahkan lebih tinggi dari orang lain, inilah anak itu, yang saat ini berdiri diatas kursi, diatas podium ini.

Tanpa basa-basi, mengucap salam juga tidak, orang dari ruang kedua itu bergegas kembali kedalam ruang dua. Perbedaanpun kembali ada, antara orang dari ruang pertama dengan orang yang berasal dari ruang kedua.


Para audien berkata, hampir semuanya membatin.
Dari sekian kali menjadi audience, baru kali ini ada orang yang memperkenalkan diri seperti itu, seru, benar-benar seru!
Saling berpandangan tanpa berucap, seolah para audience bercakap-cakap menggunakan bahasa lain, yang dilanjutkan dengan bahasa tubuh, berpandangan, tersenyum dan mengangguk.

Didalam kedua ruangan,
Baik, terimakasih kembali saya sampaikan kepada anda, sesi interview hari ini selesai. Penampilan yang menarik, bagus, luar biasa. Kami tunggu kehadiran anda esok hari. Terimakasih.




HARI KEDUA

TARGET ANDA JIKA DITERIMA!

Untuk dapat melangkah ke arah tujuan adalah harus mengerti posisi dimana berdiri saat ini
 
Selamat pagi! Senang berjumpa anda kembali, ini adalah hari kedua dari tiga hari tahapan interview yang sedang anda jalani, kembali saya ucapkan selamat, seperti halnya kemarin, hari ini anda jugalah orang yang terpilih.
Awalan dari perjumpaan pada hari kedua sesi kedua, interview. Wajah orang pertama lebih berseri dari hari kemarin, apalagi setelah memperkenalkan diri di atas podium.

Mari kita lanjutkan ke tahapan berikutnya, sudah siapkan hari ini?
Saya siap, bahkan lebih siap daripada kemarin.
Jawaban ini terdengar dari mulut orang yang berada di dalam ruang pertama. Dan seperti kemarin ekspresi wajah dari orang yang berada di dalam ruang kedua, datar-datar saja. Namun, seolah ada jawaban dari dirinya dari pertanyaan tersebut.
Kalau saya tidak siap, anda tidak akan melihat saya disini.

Pertanyaannya adalah, jika anda diterima diperusahaan ini, apa target anda?

Dengan segera orang yang berada di dalam ruangan dua berdiri kemudian berucap.
Pertama, saya akan bertanya kepada anda, posisi apa yang paling tinggi diperusahaan ini?
Pertanyaan itu langsung terjawab. Kemudian orang yang berada dalam ruangan dua melanjutkan.
Saya akan mengatakan kepada anda, bahwa perusahaan ini membutuhkan saya. Dan perkataan saya ini akan saya buktikan. Dan target saya adalah menggantikan posisi anda saat ini.

Kebekuan yang dirasakan kemarin itu, disaat interview hari pertama diruang kedua, seolah meleleh kepanasan, terbakar oleh kata-kata yang keluar, dan berkekuatan, sehingga sangatlah pantas bila kata-kata itu bukan sekedar ucapan, atau janji semu.

Respon dari orang yang berada di dalam ruang pertama, terkesan sangat normative. Meski demikian sangat meyakinkan.


Benar, setiap perusahaan memang harus memiliki target, dan targetan tersebut harus dibagikan kepada keluarga besar perusahaan ini, jadi target saya apabila saya diterima di perusahaan ini adalah saya akan mencoba dengan maksimal untuk memenuhi target perusahaan ini.

Tidak ada turunan dari pertanyaan awal, tidak lebih dari satu jam sesi interview hari kedua berlangsung. Karena hanya satu itu sajalah perntanyaan yang diajukan hari ini, penannya mempersilahkan mereka untuk keluar ruangan dan kembali esok hari.



HARI KETIGA

PERTANYAAN 1          [APA YANG ANDA LIHAT?]

Buka mata buka telinga buka hati semuanya akan mudah untuk dimengerti
 
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, bisa jadi karena hari ini merupakan hari terakhir dari tahapan interview sebagai langkah untuk dapat menjadi keluarga besar perusahaan tersebut. Telah terpasang alat multimedia, diatas meja dimasing-masing ruangan, ruang pertama dan ruang kedua. Pada keduanya tersambung dengan laptop yang menghadap kesatu-satunya kursi yang berada di setiap ruangan, ruang satu dan ruang dua.

Meski demikian, sambutan untuk setiap peserta interview sama seperti hari-hari sebelumnya, yaitu ucapan selamat dan terimakasih. Tepat pukul Sembilan pagi waktu bagian setempat, dimana pada jam tersebut adalah saat awal mulai interview.

Apakah anda merasakan ada perubahan dengan ruangan ini pada pagi hari ini? Apa yang anda perhatikan?
itulah pertanyaan awal yang muncul dari sang penannya, staff HRD yang bertanggung jawab akan hal ini.

Memang sudah seharusnya, beginilah bukti adanya kehidupan, terdapat perubahan.
Jawaban datar dari seorang yang berada di dalam ruang kedua, tampaknya ruangan kedua akan kembali beku seperti pada hari pertama, setelah kemarin telah mencair akibat semangat yang tersirat dari kata-kata sebagai jawaban dari pertanyaan kedua pada sesi interview ini.

Iya pak, saya melihat ada perubahan. Dimeja ini, dua hari berturut-turut, dari hari pertama saya masuk ke ruangan ini, selalu bersih, kosong tanpa ada apapun diatasnya, tapi hari ini saya melihat alat multimedia, liquid central display dan laptop. Sudah terpasang dan saling terhubung, sepertinya siap untuk digunakan.
Meski tidak dilanjutkan secara verbal, namun tanda tanya besar meliputi batin peserta interview yang berada di ruang pertama tersebut,
Kira-kira buat apa ya? Alat multimedia disediakan, buat apa ya? Apapun itu saya harus siap, tidak boleh gagal, semangat!



Itu tadi adalah pertanyaan pertama dari tiga pertanyaan yang akan saya lontarkan, dan hari ini adalah puncak dari interview sebagai langkah untuk bergabung di perusahaan ini.

Senyum mengembang terlihat dari wajah seorang yang berada di dalam ruang pertama. Seolah keyakinan telah membawanya ke dalam buaian indahnya bergabung dengan perusahaan yang telah lama diincarnya.
Sampai saat ini saya sangat yakin, bahwa saya akan berhasil.

Selalu ada perbedaan dalam penyikapan sebagai respon dari stimulant yang disampaikan oleh penannya dari hari pertama, diantara para peserta interview yang berada di dua ruangan berbeda. Kadang memang sangat berbeda, dan semakin terkesan berbeda dari setiap harinya. Seperti yang telah terekam dengan cermat dengan detail dan gambar tajam cctv yang berada di setiap ruangan.





PERTANYAAN 2          [MAKAN SAMBAL SAMA KLIEN]

Baiklah, sekarang saat pertanyaan kedua saya sampaikan.
Terasa kompak antara ruang pertama dan ruang kedua, seperti sudah terancang sedemikian rupa sehingga pertanyaan kedua dibacakan berbarengan. Bersamaan antara ruang pertama dan ruang kedua.

Suatu ketika, disaat anda telah bergabung dengan perusahaan ini lalu pada satu kesempatan anda diajak makan oleh salahsatu client. Bukan masalah client itu perempuan atau laki-laki, karena point pertanyaannya adalah anda diajak makan di tempat makan yang sangat terkenal dengan kepedasan sambalnya. Apa yang anda lakukan?

Ekspresi keduanya aneh, berubah dengan cepat.

Dan anda harus memakan sambal tersebut!
Tambahan kalimat dari pertanyaan diatas.

Begini pak, ada pepatah mengatakan sedia payung sebelum hujan, unik sekali pertanyaan yang bapak ajukan, tapi sangat menarik bagi saya. Berdasar dari pepatah tersebut, maka jawaban saya adalah sebagai berikut:
Pertama, saya tahu kalau akan makan di tempat makan yang memiliki ciri khas sambalnya yang teramat pedas, dan jelas saya harus memakannya.
Kedua, pedas itu tidak akan hilang jika hanya di “bilas” dengan minuman, karena setahu saya pedas itu akan berangsur hilang lebih cepat bila memakan garam.
Ketiga, saya akan memakannya sedikit mungkin agar tidak mengecewakan client yang telah mengajak makan di tempat tersebut.
Jadi disaat saya bersama client saya telah menganalisa kemudian merencakan tindakan apa yang harus saya lakukan di tempat makan tersebut.

Tidak seperti biasanya, kali ini terdapat turunan dari pertanyaan induk, setelah orang yang berada didalam ruang pertama menjawabnya.
Apakah anda tidak terpancing untuk makan banyak, dan lagi biasanya orang yang kepedasan akan keluar keringat sehingga menggangu kerapian anda, bagaimana menurut anda?

Terdiam sejenak, karena memang tidak mempersiapkan untuk pertanyaan turunan seperti itu. Tapi sesaat setelah itu, ia kembali menjawab.


Benar, makanan pedas memang merangsang untuk makan banyak, bahkan bisa jadi disaat kepedasan kita tidak lagi memikirkan kapasitas perut kita, makanya hampir disetiap tempat makan, menu pembukanya selalu asin atau pedas, untuk merangsang makan pelanggan.

Dan saya tahu cara mengatasi hal tersebut yaitu memesan minuman manis, kalau perlu manis sekali dan meminta garam. Dan soal keringat, memang mengganggu menurut saya, untuk itu saya bersegera untuk menyekanya dengan sapu tangan saya, dengan posisi menunduk, sehingga client yang kita bawa tidak kehilangan selera makan akibat dari keringat saya yang sangat banyak.            Saya kira itulah perilaku yang seharusnya. Terimakasih.

Baru saja mau menghela nafas lega, merasa telah menjawab semua pertanyaan yang diajukan, kembali pertanyaan turunan muncul.
Tidakkah anda malah tidak sopan dengan menyeka keringat dihadapan client tersebut? Lalu bagaimana bila client kita yang memesankan makanan untuk anda, sebagai porsi tambahan?

Jika menyeka dihadapan client adalah tindakan yang tidak baik maka saya akan memohon diri sebentar ke toilet untuk merapikan diri disaat berkeringat. Tapi menurut saya tidak apa-apa menyeka keringat di depan client, asalkan tidak dilihatkan secara vulgar terhadap client yang pastinya memberhentikan dengan sangat cepat kenikmatan client dalam menikmati hidangan super hot dari tempat makan tersebut.

Kembali penanya dikejutkan oleh jawaban dari ruang kedua, dengan pertanyaan yang sama namun jawaban kali ini agak terlihat memaksa dan sekedar melucu. Meski ekspresi wajah dari orang itu datar tidak terlihat seperti orang yang sedang melucu, serius.
Jelas saat saya diundang makan, dimanapun dan oleh siapapun, akan saya utamakan jika memang saya dapat memenuhinya maka saya akan mengatakan ya, meski saya tahu oleh client satu itu, yang suka makanan pedas, saya diajak ke tempat makan yang sangat terkenal pedasnya.
Yang akan saya lakukan adala, saya akan makan sebanyak mungkin sambal itu, kalau perlu nambah sambal, biar saja client yang mengundang saya makan, terkesima sehingga sambalnya bisa saya habiskan juga, karena dia lebih memperhatikan saya makan sambal ketimbang sibuk dengan makanannya.



Itu sambal sangat pedas, bagaimana anda bisa menahan kepedasan yang meningkat, apalagi anda makan banyak sekali?

Saya akan tampil biasa, seolah saya tidak memakan sambal itu. Sampai akhirnya client yang telah mengundang saya makan selesai urusannya dengan saya, sebagai perwakilan dari perusahaan yang sangat jelas membutuhkan saya ini.

Bagaimana anda bisa, apa yang anda lakukan?

Pastinya saya masih manusia, makan sambal yang notabene adalah jus cabai, pastinya saya kepedasan, tapi inikan diri yang diamanahkan ke saya, jadi ya pasti saya yang harus mengendalikan diri saya ini, mana mungkin anda. Meski bisa jadi anda dapat mengendalikan diri saya jika saya tidak memahami diri saya.

Lalu?

Saya akan tahan rasa pedas dari sambal yang saya makan banyak itu, kemudian setelah urusan dengan client selesai, saya akan menyegerakan diri ke toilet. Nah disanalah saya akan selesaikan rasa kepedasan saya.

Apa yang anda lakukan di toilet untuk menyelesaikan kepedasan anda?

Saya akan tutup pintu toilet dan akan berteriak “hahahahahahahahahhhhhhh!!!!!!” pedas “huhuhuhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!” pedas, pedas sambil berkumur-kumur. Mengambil nafas kembali mengusai diri.

Sepertinya, kali ini penanya yang sedang menahan tawa. Mendengar jawaban yang konyol dari orang kedua itu.

Jadi anda menahan kepedasan anda selama bersama client, kemudian “memunculkan” kembali rasa kepedasan itu didalam toilet?
Penannya menyimpulkan jawaban dari orang kedua dari ruangan dua. Memastikan jika itu memang jawaban dari orang kedua yang berada di ruang dua. Tampaknya, penanya mempunyai pertanyaan baru, namun sekejap dialihkan untuk menambahkan catatan defile curriculum vitae dan berkas interview orang kedua dari ruang dua tersebut.


PERTANYAAN 3          [DITINGGAL DIJALANAN]

Baik, saudara sekalian ini adalah pertanyaan ketiga, di hari yang ketiga, sebagai akhir dari interview sebagai tahapan proses untuk dapat bergabung dengan perusahaan ini.
Menjelang break makan siang, ternyata masih ada pertanyaan akhir yang sudah menanti giliran untuk dijawab.

Silahkan disimak, pertanyaannya adalah, apa yang anda lakukan apabila suatu ketika anda diturunkan di jalan, karena suatu hal, sedangkan anda tidak memiliki uang sepeserpun, dan ternyata di dekat anda ada kardus bekas yang berantakan tanpa tuan?
Begitu pertanyaan selesai disampaikan. Orang yang berada di dalam ruang kedua segera menjawab dengan tenang.

Saya tidak akan menjawab “kalau saya akan mengumpulkan kardus bekas tersebut, kemudian menjualnya sehingga saya mempunyai cukup uang yang dapat digunakan untuk naik angkutan umum sehingga saya sampai dirumah”. Tapi yang akan saya lakukan adalah, saya akan barter jam tangan saya dengan spidol atau alat tulis lainnya.

Kembali lagi, berulang lagi, penanya dibuat heran oleh orang ini, orang yang berada di ruang dua. Pertanyaan susulan akhirnya muncul.
Kenapa anda tidak jual saja jam tangan anda?

Itu terlalu mudah dan tidak berseni, tahukah anda apa yang akan saya lakukan dengan alat tulis dan kardus bekas?
Pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh orang lain, sebab yang bertanya menjawabnya sendiri.

Di ruang pertama, orang pertama menjawab.
Tidak, masalah bagaimanapun saya ditinggal, sebab saya yakin pasti ada solusi. Karena yang terpenting adalah kita harus selalu tenang, sehingga menemukan jalan keluar. Dengan ketenangan, akan saya hadapai situasi tersebut.

Benar, ketenangan adalah kunci, lalu bagaimana?

Langkah berikutnya adalah saya melihat kondisi sekitar, tempat saya ditinggalkan.


Lalu menyusun strategi agar mencapai solusi. Pastinya jika ada kardus bekas, artinya itu adalah solusi, sebab kardus bekas masih mempunyai nilai ekonomi. Jadi saya tinggal menyusun, merapikan, lalu mencari calon pembeli, dijual, terjual, mendapatkan uang, saya dapat kembali ketujuan saya. Itulah yang akan saya lakukan.

Orang kedua di ruangan kedua, masih melanjutkan jawabannya.

Telah terbukti, dengan tulisan dapat mengguncang dunia, maka saya juga yakin dengan usaha saya dengan menggunakan alat tulis yang saya berter dengan jam tangan saya, maka saya akan merubah kondisi saya, dari awal saya ditinggal di jalan itu, maka saya harus bisa sampai di tempat tujuan saya dengan mobil yang lebih baik.

Penanya menyimak keras, bagaimana seriusnya menelaah dan mecoba menebak apa yang sebenarnya akan menjadi jawaban orang dari ruangan kedua itu.

Akan saya ambil kardus, kemudian saya akan menulis “saat ini, satu jam yang lalu, dua jam yang lalu” dan satu kardus akan saya tulis “hari ini luar biasa”. Kemudian akan saya susun dengan posisi yang mudah terlihat oleh orang, supaya semua orang dapat melihat jelas tulisan saya yang ada di kardus. Dan inilah seninya, disamping kardus yang bertuliskan 2 jam yang lalu, saya akan memperagakan pantomime saat saya 2 jam yang lalu. Dua jam lalu saya masih didalam mobil hingga saya diturunkan, kemudian saya akan bernpidah posisi bergeser ke sebelah kardus yang bertuliskan 1 jam yang lalu, saya pun mempertontonkan pantomime saat saya satu jam yang lalu, di saat saya barusaja ditinggal di tengah jalan, sampai dengan saya menemukan ide membuat atraksi pantomime ini, dan kembali bergeser untuk ber-pantomime disebalah tulisan, saya saat ini. Setelah semua itu saya akan berteriak tanpa suara, meloncat dengan semangat, hari ini luar biasa.

Berbeda dengan jawaban sebelumnya, lebih panjang, seolah orang kedua dari ruang dua telah menyiapkan kata-kata tersebut dari beberapa tahun yang lalu, sangat bergemuruh, menjiwai, seolah betul-betul pernah mengalami hal sedemikian itu.

Disaat ada mobil yang berhenti, untuk member tumpangan, maka disaat itu harus ada dealing, jika saya masuk mobil, anda harus mengantarkan saya sampai ke tampat tujuan saya. Kalo perlu jadi supir pribadi saya sementara. Untuk menjual kardus, atau sekedar mengantarkan ke gerobak pemulung untuk memberikan kardus yang telah saya tulisi itu.

Tak heran, namun masih saja mengejutkan lanjutan jawaban dari orang kedua yang berada di ruang dua. Penannya masih menyimak jawaban berikutnya.

Jika tidak deal, maka saya akan semakin menikmati proses survival ini. Demikian yang saya lakukan dalam kondisi ditinggal di jalanan.

Merasa sudah selesai sesi interview, selama tiga hari berturut-turut, orang kedua dari ruang kedua meminta izin untuk bertanya kepada penanya.
Sebetulnya perusahaan ini bergerak dibidang apa sih, saya cermati dari hari pertama interview, saya agak janggal, sebab beberapa pertanyaan dan kondisi yang terjadi dengan diri saya sangat mirip, dari awal juga saya hanya mendengar suara anda, belum pernah melihat bertatap muka. Jadi mohon anda keluar dan langsung menemui saya, terimakasih.

Seketika suasana berubah sunyi, pertanyaan yang telah menghipnotis keadaan sehingga mati suri seperti ini. Sampai akhirnya, diturutilah permintaan orang yang berada diruang dua. Tanpa ada suara yang berarti, hanya ruangan menjadi sangat terang, karena lampu ruangan di tambah, hingga cahaya dari empat sudut dan delapan penjuru bersinar semua.

Hah!
Kali ini orang yang sering membuat kejutan, terkejut karena permintaannya sendiri, ingin tahu, karena keingintahuannya.

Kok, anda mirip dengan saya, apakah anda…..
Belum lagi sempat melanjutkan pertanyaan, kembali ia terkejut disaat ruanga pertama tampak jelas terlihat dari ruang kedua, dan ruang dimana dia harus naik podium untuk memperkenalkan diri.

Ka… ka.. kalian semua kok mirip dengan saya. Sebenarnya siapa kalian, kenapa kalian semua sama.

Setelah berekspresi dan melakukan dialog itu, menuliskannya, saya kemudian akan mengatakan kepada pembaca, bahwa itu adalah saya, yang bertanya saya, yang diinterview saya, yang jadi penanya, jadi direktur, jadi office boy, jadi semua orang yang ada dicerita diatas itu adalah saya, karena saya sedang berdialog dengan diri saya. Berdialog imajiner, dengan beberapa sudut pandang.



Biasa saja, karena sebenarnya dialog seperti ini seringkali kita lakukan, dalam kesadaran optimal atau dalam kesedihan yang mendalam berbalut emosi menutupi diri anda yang sesungguhnya.

Kepekaan jiwa, karena hanya kita yang lebih memahami diri kita, bukan siapa-siapa.